TAHUN 2022
Menurut WHO, pregnancy atau kehamilan
adalah proses Sembilan bulan atau lebih dimana seorang perempuan membawa embrio
dan janin yang sedang berkembang didalam rahimnya (WHO, 2019).
Kehamilan berisiko tinggi adalah kehamilan yang cenderung berpotensi
mengganggu kesehatan dan membahayakan keselamatan ibu hamil, janin, ataupun
keduanya.Sebetulnya, semua kehamilan memang memiliki risiko tersendiri. Namun,
terdapat beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kehamilan menjadi lebih
berisiko, misalnya ibu yang mengidap penyakit bawaan atau memiliki riwayat
kehamilan yang bermasalah sebelumnya.
Komplikasi dari kehamilan berisiko
tinggi tersebut dapat terjadi mulai dari janin masih berada di dalam kandungan,
selama proses persalinan, hingga masa nifas. Kendati demikian, memiliki
kehamilan yang berisiko tinggi bukan berarti ibu dan janin sudah pasti akan
mengalami gangguan kesehatan. Hanya saja, ibu perlu menjalani perawatan dan
berada di bawah pengawasan ekstra guna mengantisipasi terjadinya komplikasi
kehamilan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2021 tentang penyelenggaraan pelayanan
kesehatan masa sebelum hamil,masa hamil,persalinan,dan masa sesudah
melahirkan,pelayanan kontrasepsi dan pelayanan kesehatan seksual pada pasal 13
ayat 1 dijelaskan bahwa Pelayanan Kesehatan Masa Hamil bertujuan untuk memenuhi
hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas sehingga
mampu menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan
bayi yang sehat dan berkualitas. Pelayanan Kesehatan Masa Hamil sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sejak terjadinya masa konsepsi hingga sebelum
mulainya proses persalinan. Pelayanan Kesehatan Masa Hamil dilakukan paling
sedikit 6 (enam) kali selama masa kehamilan meliputi: a. 1 (satu) kali pada
trimester pertama; b. 2 (dua) kali pada trimester kedua; dan c. 3 (tiga) kali
pada trimester ketiga,oleh karena
itu pelayanan dan pemantauan ibu hamil sangat diperlukan untuk meningkatkan
serta mempertahankan kesehatan ibu dan bayi
Data angka kematian ibu (AKI) dan angka
kematian bayi (AKB) adalah
salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan di
negara berkembang. Data menunjukkan bahwa AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi meskipun
sebelumnya mengalami penurunan, diharapkan Indonesia dapat mencapai target yang
ditentukan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yaitu AKI 70 per 100.000 kelahiran
hidup dan AKB 12 per 1000 kelahiran hidup.
Salah satu agenda utama Sustainable
Development Goals (SDGs)adalah menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi.
Hingga saat ini, Angka Kematian Ibu ( AKI ) skala nasional masih di kisaran 305
per 100.000 Kelahiran Hidup. Adapun target penurunan AKI pada akhir RPJMN
2020-2024 adalah 183 per 100.000 KH
Pada tahun 2022
AKI di Kota Mojokerto sebesar 50,78/100.000 kelahiran hidup sedangakan AKB
sebesar 3,05/1000 kelahiran hidup.Di Kelurahan Wates kasus
kematian ibu pada masa kehamilan di
wilayah Kelurahan Wates pada tahun 2021 tercatat 3 ibu hamil (1,1%)
tahun 2022, 1 ibu hamil(0,33%) dan kematian bayi tahun 2022 sebanyak 2 bayi (
0,68%).
Puskesmas Wates berada di wilayah padat penduduk dengan 26 Posyandu yang terbagi di 26 wilayah RW, melalui pemantauan wilayah setempat ibu hamil di tahun 2021 di UPT. Puskesmas Wates total
ibu hamil sebanyak 295 atau 94,55%,didapatkan
ibu hamil resiko tinggi sebanyak 27,88%.Secara umun capaian kunjungan ibu hamil
ini dinilai kurang maksimal karena dengan beberapa kendala pandemic membuat
kinerja program kia di tahun 2021 kurang berjalan cukup maksimal
Optimalisasi pelaporan kader belum
berjalan baik ketidak konsekuensi kebijakan terkait
pandemic membuat koordinasi di lapangan kerab terputus. Sehingga
kunjungan
ibu hamil kurang mendapat pantauan yang maksimal.
Upaya pemantauan ibu hamil sering kali
menghadapi kendala terkait kondisi penduduk yang
tidak lagi berdomisili di Wates. Kelurahan Wates memiliki sasaran 298 ibu hamil , namun data dilapangan yang berhasil melakukan kunjungan ibu hamil sesuai standart
hanya berjumlah 269 atau 86,22%. Maka daripada itu untuk
mengatasi hal tersebut dibutuhkan suatu upaya yang membutuhkan kerja sama dari lintas program dan sector terkait di wilayah kerja Wates.
Dalam upaya mencapai sasaran percepatan penurunan AKI dan AKB sdi wilayah
Wates Kota Mojokerto, UPT Puskesmas Wates menjadi pioneer untuk melakukan inovasi melalui program Samiler yakni sapa ibu hamil secara terpadu.kegiatan ini terdiri dari beberapa
lintas program dan sektor terkait yang melibatkan kader
motivator,bidan,dokter,gizi,konselor ASI,Prameswari,kesling, promkes,TPK,PKK
Meskipun setiap bidang
memiliki tujuan dan latarbelakang yang beragam. Namun
melalui kegiatan sapa ibu hamil
secara terpadu , diharapkan penggagas dapat mengedepankan setiap
upaya yang ditujukan dalam percepatan penurunan AKI
dan AKB .
.
C.1 Tujuan Umum
Menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi
(AKB) di wilayah Wates.
1.
Meningkatkan capaian standart pelayanan minimal
(spm) bidang kesehatan menjadi 100%
2. Meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman ibu hamil dalam pencegahan stunting sejak dini
3.
Meningkatkan pengatahuan ibu hamil tentang informasi
terkait tanda bahaya kehamilan,persalinan,nifas,serta deteksi dini pada bayi
4.
Meningkatkan serta mempertahankan kesehatan ibu dan
bayi
5. Meningkatan jumlah kunjungan ibu hamil baik pemeriksaan secara rutin maupun pemeriksaan USG
Mendukung tercapainya kerja sama dalam upaya percepatan
penurunan AKI dan AKB wialyah kelurahan
Wates, dengan tata nilai diantaranya adalah :
1.
Inovative
Perputaran kemajan komunikasi jaman menjadi cambuk dan
tantangan terciptanya edukasi yang baik dengan masyarakat. Lintas
komunikasi di era modernisasi menjadi
gerbang inovatif untuk menyampaikan edukasi, motivasi terkait kesehatan ibu dan anak , selain itu pesan edukas kesehatan ibu hamil perlu dikemas dengan kegiatan yang sederhana namun mudah dijangkau oleh sasaran. Inovasi dalam
berkomunikasi memegang peranan penting dalam pencapaian program penurunan AKI dan AKB
2.
Pemberdayaan
Kendala pemantauan ibu hamil terkait faktor demografi penduduk wilayah Wates yang kerap tidak berdomisili
di wilayah Wates. Maka dalam upayanya melakukan pemantauan terebut diperlukan upaya pemberdayaan melalui
pemantauan masyarakat
terdekat.
3.
Mandiri
Arah strategi untuk kesehatan ibu hamil diantaranya adalah kesadaran ibu untuk rutin memeriksakan
kehamilannya sehingga ibu mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dalam proses
kehamilan,persalinan ,nifas ,serta deteksi dini bayi baru lahir
4.
Team Work
Sebagai penggagas kegiatan sapa ibu hamil secara terpadu diperlukan upaya team work serta disiplin pada masing masing bidang. Setiap masing masing bidang yang bergerak memiliki nilai dan arah yang positif dalam menurunkan AKI dan AKB di wialyah kerja Puskesmas Wates.